18/03/26

IMAN DAN KELESTARIAN ALAM


 Khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah

Iman dan Kelestarian Alam

Prof Dr Abdul Mu'ti M Ed

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah,

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI

 

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذُ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبَرَهُ تَكْبِيرًا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ إِلهَا وَاحِدًا ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا نَبِيًّا وَرَسُولًا . الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ اتَّبَعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ

فيا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ أُوصِينِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ . وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah

Pada kesempatan yang sangat mulia dan berbahagia ini marilah kita berusaha meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah. Kita menunaikan dengan ikhlas semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.

Pada kesempatan ini khatib mengucapkan taqabbal Allahu minna waminkum. Shiyamana wa shiyamakun. Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.

Alhamdulillah kita semua telah menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan dan ibadah-ibadah sunnah dengan sebaik-baiknya.

Alhamdulillah kita diberikan kesempatan oleh Allah menunaikan ibadah shalat Idul Fitri sebagai perayaan kemenangan dan wujud syukur kepada Allah. Idul Fitri yang kita laksanakan pada 1 Syawal bukanlah titik kulminasi, tetapi justru menjadi titik awal untuk kita meningkatkan ibadah dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dalam bahasa Arab, kata syawal (شوال) berasal kata syala (شال) yang berarti mengangkat رفع / ارتفع ). Syawal berarti peningkatan, pengangkatan, atau kenaikan.

Berbekal ibadah selama bulan Ramadhan, kita berusaha meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan meminta ampunan atas segala dosa, belajar dari kesalahan dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama dan membuat kesalahan baru serta meningkatkan hal-hal dan amal kebajikan selama Ramadhan seperti sedekah, tadarus Al-Quran, dan qiyamu al-lail.

 

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Idul Fitri yang dirahmati Allah

Di dalam kehidupan dunia, manusia memiliki dua kedudukan yaitu hamba dan khalifah Allah. Sebagai hamba, manusia menyembah Allah sebagai Tuhan satu-satunya, mengabdi kepadaNya, menunaikan dengan ikhlas semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya. Allah berfirman:

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku - (Az-Zariyat [51]: 56).

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

Padahal mereka hanya diperintahkan menyenbah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama (Qs.Al-Bayyinah [98]:5).

Sebagai khalifah Allah, manusia bertanggung jawab untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan di dunia dengan senantiasa berbuat ihsan dan tidak membuat kerusakan.

وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْعَ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (Qs. Al-Qasas [28]: 77).

 

Di dalam ayat yang lain Allah berfirman:

 

وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِن سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا فَاذْكُرُوا الَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

 

Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. (Qs Al-A'raf 74)

Di dalam surat Hud (11): 61 Allah berfirman:

 

هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَأَسْتَعْمَرَ كُمْ فِيهَا

Dia menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya.

 

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ، لَا إِلَهَ إِلَّا وَاللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Idul Fitri yang dirahmati Allah

Pelaksanaan tugas khalifah merupakan ibadah dan wujud keimanan kepada Allah. Iman membedakan perilaku manusia terhadap alam. Manusia beriman melestarikan alam, manusia munafik dan fasik membuat kerusakan. Orang-orang munafik itu, apabila diingatkan agar tidak membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: saya tidak merusak, tetapi membangun, melestarikan alam:

 

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِن لَّايَشْعُرُونَ

 

Dan bila dikatakan kepada mereka: "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan". Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (Qs Al-Baqarah: 11-12)

Orang-orang fasik adalah mereka yang bermaksiat kepada Allah dan menciptakan kerusakan di muka bumi.

الَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ میثقهِ - وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أَوْلَئِكَ هُمُ الْخَسِرُونَ

(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi. (Qs Al-Baqarah: 27)

 

اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Idul Fitri yang dirahmati Allah

Sekarang ini kita melihat kerusakan alam semakin parah. Berbagai musibah akibat kerusakan alam terjadi silih berganti. Banjir, tanah longsor, dan berbagai bencana hedrometrologi seakan tiada henti.

Dunia sekarang mengalami masalah iklim yang semakin serius. Perubahan iklim (climate change) yang diakibatkan pemanasan global (global warming) mulai berdampak terhadap kerusakan ekosistem. Dalam jangka panjang, jika tidak dihentikan atau diperlambat, perubahan iklim dapat mengancam kehidupan dunia dan masa depan umat manusia.

Belum lagi masalah polusi udara, air, dan tanah serta sampah yang menimbulkan bencana ekologis dan berbagai penyakit endemik dan pandemik.

Kerusakan itu bukan karena murka Allah dan penciptaan alam yang tidak sempurna. Kerusakan terjadi karena perbuatan manusia.

 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Qs Ar-Rum 41)

Agar kerusakan tidak terus terjadi, kita perlu membangun budaya hidup sehat dan ramah lingkungan. Pertama, membiasakan diri hidup bersih. Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan bersih (Qs. Al-Baqarah [2]: 222).

Kedua, tidak boros energi, makan dan minum yang berlebihan, dan konsumtif (Qs. Al-Araf [7]: 31). Membudayakan budaya hemat dengah 4R: Reduce (mengurangi), Reuse (memanfaatkan barang-barang habis pakai), Recycle (mendaur ulang sampah), dan Reproduce (memproduksi kembali barang-barang habis pakai menjadi produk yang bernilai ekonomi dan kelestarian alam).

Ketiga, membangun budaya hidup sehat dengan menerapkan kecerdasan ekologis dengan membeli produk yang tidak merusak lingkungan, mengurangi bahan-bahan kimia dan unorganik, memperbanyak penggunaan produk organik, mengurangi konsumsi listrik kantor dan rumah tangga yang tidak perlu, tidak banyak menggunakan kendaraan bermotor dengan bersepeda atau berjalan kaki.

Keempat, menanam pohon-pohon yang produktif, tanaman keras yang berbuah, untuk reboisasi dan peningkatan ekonomi serta tata ruang yang seimbang.

Kelima, mengurangi limbah industri dan "limbah ibadah" melalui pengolahan air dan daur ulang air sehingga tidak menimbulkan pencemaran air. Penting dilakukan pemanfaatan air bekas wudlu untuk kolam atau pengairan tanaman. Penting mulai dibangun masjid dan gedung-gedung yang ramah lingkungan dengan listrik tenaga surya, arsitektur gedung yang hemat energi, dan berbagai penghematan yang lainnya.

Mari kita aktualisasikan iman Dalam perilaku, budaya, dan kebijakan yang ramah lingkungan. Mari kita transformasikan amalan Ramadhan dalam kehidupan yang tidak konsumtif, hidup hemat, efisien, dan tidak boros energi.

Alam adalah anugerah Allah untuk kesejahteraan umat manusia. Mari kita lestarikan untuk masa depan dunia dan kehidupan umat manusia dengan spirit iman dan takwa.

 

اللهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيمِ وَعَظِيمِ سُلْطَانِكَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مجِيدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلا لِلَّذِينَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيمٌ . اللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

Suara Muhammadiyah • 06/111•16-31 Maret 2026 hal. 33

Disalin sesuai aslinya oleh Iqbal Al Basith Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Planjan Kesugihan Cilacap

 

Jihad Memperkokoh Nilai Keadaban


 Khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah

 

Jihad Memperkokoh Nilai Keadaban Bangsa

Dr Muhammad Sa'ad Ibrahim, MA, Ketua PP Muhammadiyah

 

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْعِيدَ ضِيَافَةً لِلْأَنَامِ ، وَجَعَلَهُ مِنْ شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ ، حَرَّمَ فِيهِ الصِّيَامَ ، وَأَحَلَّ فِيهِ الطَّعَامَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِقُ الْعَالَمِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ خَيْرُ الْأَنَامِ اللَّهُمَّ صَلَّ وَسَلَّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Para Jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah

Hari ini 1 Syawal 1447 H. telah dijadikan oleh Allah sebagai hari suka cita bagi kita, bagi kaum Muslimin seluruhnya. Kita baru saja menempuh proses penyadaran kembali arti pentingnya hidup kerohanian yang transendental yang selama ini terbelenggu oleh tuntutan hidup fisikal material fenomenal yang profan. Suatu proses penyadaran pentingnya arti langit, dan rendahnya kehidupan bumi dengan segala implikasinya. Oleh karena di dalam sunnatullah telah digariskan bahwa manusia harus tinggal sementara di bumi ini, maka tak terhindarkan hukum gravitasi bumi menarik tubuh fisik manusia demikian kuatnya, bahkan kemudian ruh yang ditiupkan ke dalam Tubuh kasar manusia, tak kalah kuatnya ikut ikutan tertarik ke dalam lumpur debunya, sehingga ruh lupa akan asal usulnya sendiri yang habatat min al mahall al arfa' , memancar dari singgasana langit yang tertinggi, min qibalillah, min ruhih, dari sisi Allah, dari ruhNya.

Puasa sebagai kewajiban bagi seluruh ummat beriman kalian dan sebelum kalian dimaksudkan agar ruh kalian, agar mental kalian melawan gravitasi bumi, dan beranjak sedikit, demi sedikit mendekati langit, kemudian menerobos nya dalam konsentrasi meditasi khusyu' ketakwaan mengarahkan mata ruhani ke Dzat Yang Maha Besar, ke Dzat Yang Bumi dan Langit tak berdaya dalam genggamanNya.

 

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد

 

Para Jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah

Di hari suka cita, di hari Idul Fitri ini, rasa rasanya kita telah mendapat rahmat Allah, mendapatkan ampunanNya, dan dibebaskan dari api neraka, seakan-akan kaki ruhani kita telah sampai ke pintu gerbang singgasana langit tertinggi, ke surga yang dijanjikan, ke kebahagiaan yang tak terkirakan. Namun tiba tiba terdengar seruan yang sangat keras ke telinga ruhani kita, membuyarkan lamunan transendental kita:

“Apakah kalian sangka kalian akan masuk surga padahal Allah belum menyaksikan kalian berjihad, belum juga melihat kalian bersabar. Apakah kalian kira kalian akan masuk surga, padahal kalian belum ditimpa seperti orang-orang dahulu yang ditimpa kepedihan, penderitaan, bahkan kegoncangan, sampai-sampai Rasul dan orang-orang yang beriman yang menyertainya, berseru kapan akan datang pertolongan Allah, lalu dijawab bahwa sesungguhnya pertolongan Allah itu sudah dekat.”

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّبِرِينَ

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُمْ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

 

Jihad di jalan Allah ada lah suatu wilayah yang sangat luas. Salah satu misi jihad Islam adalah mengatasi terjadinya krisis nilai keadaban, yang semakin terasa terjadi nyaris di semua lini kehidupan berbangsa dan bernegara di republik ini. Penguatan terhadap nilai-nilai keadaban yang berupa keadilan, amanah, kejujuran, sopan santun, keberpihakan kepada yang lemah dan yang dilemahkan, adalah beberapa contoh wilayah jihad yang nyata-nyata harus diperjuangkan.

 

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد

 

Para Jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah

Puasa Ramadhan dengan segala rangkaian ibadah di dalamnya, telah mengajarkan proses penguatan terhadap nilai-nilai keadaban. Nilai-nilai ini dibangun di atas prinsip: keimanan, menahan diri, serta ke hati-hatian dalam seluruh prilaku dan tindakan. Puasa menuntut manusia agar bisa menahan diri, bahkan dari hal-hal yang sebenarnya dibolehkan: makan minum, dan menyalurkan libido seksual suami istri sejak terbit fajar sampai terbenam matahari selama sebulan penuh.

Pembiasaan menahan diri dari yang dibolehkan, agar lebih dapat menahan diri dari yang diharamkan, dari bertindak zalim, korup, tidak jujur, tidak sopan, tidak amanah, mengabaikan pihak yang lemah dan yang dilemahkan, dan lain lain. Semua tindakan seperti itu jelas akan meruntuhkan martabat manusia, martabat bangsa, bahkan akan meluluhlantakkan peradaban itu sendiri.

 Dengan prinsip iman, menahan diri, dan kehati-hatian yang merupakan esensi bangu puasa yang sesungguh sungguhnya, telah menguatkan nilai-nilai keadaban ummat, keadaban bangsa, seharusnya begitu. Puasa mengasuh dan mensucikan jiwa, meninggikannya di atas dimensi ketubuhan, dimensi kematrialan manusia. Buahnya antara lain, tidak melakukan korupsi. Bukankah tindakan korup pasti menegasikan iman, pasti merusak kesucian jiwa, pasti menzalimi, pasti merusak peradaban, pasti berorentasi kejasadan, materialistik! Dan pasti dibenci Tuhan, dimurkai Allah. Begitu Allah selesai memaparkan ayat-ayatNya tentang puasa Ramadhan, langsung Allah sambung dengan peringatanNya:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَلَكُم بَيْنَكُم بِالْبَطِل وَتُدْلُوا بها إلى الحكام لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَلِ النَّاسِ بِالْإِثْم وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan janganlah kalian makan harta di antara kalian dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kalian menyuap dengan harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kalian dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kalian mengetahui (Al-Baqarah 188).

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Para Jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah

 

Puasa juga mengajarkan kepada kita, untuk merasakan lapar dan dahaga, yang biasa dirasakan oleh mereka yang papa, mereka yang tak berpunya. Menghadirkan empati, setidak-tidaknya simpati kepada the have not, sehingga bermurah hati menyantuni dan turut mengentas derita mereka. Agar harta tidak sepenuhnya berada di genggaman para thehave. Agar keadaban kemanusian menjadi bagian penting tarikan nafas kehidupan bangsa. Dahulukan mereka yang lemah, mereka yang dilemahkan. Keberpihakan kepada mereka, berbuah keberpihakan Allah kepadabangsa ini:

اللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ في عون أخيه

Allah menolong hamba-Nya, jika hambaNya menolong sesama. Jika bangsa ini mendahulukan dan berpihak kepada mereka yang lemah dan yang dilemahkan, tentulah Allah akan menolong bangsa ini.

 

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Para Jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah

Puasa juga mendidik kita untuk memiliki kelembutan hati, buah dari pensucian jiwa selama ditempa di bulan Ramadhan ini. Jadikanlah sebagai kekuatan untuk memperkokoh nilai-nilai keadaban, membangun kebersamaan, membina hubungan dengan sesama, dengan seluruh anak bangsa. Jangan saling menzalimi satu sama lain, jangan saling menggunting dalam lipatan. Bangsa ini akan menjadi tinggi kedudukannya jika seluruh potensi digunakan untuk membangun masa depan yang gemilang, yang berkeadaban! Moga Allah menolong kita, menolong bangsa ini!

Akhirnya marilah kita memohon kepada Allah, konsentrasikan pikiran hanya kepadaNya, hadirkan kesadaran transendental bahwa la berada di hadapan kita. Mari kita mulai:

 

اللَّهُمَّ صَلَّ وَسَلَّمْ عَلَى نَبِيِّنَامُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابه ، اللهم صلِّ عَلَى مَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِينَ وَأَنْبِيَائِكَ وَالْمُرْسَلِينَ ، وَأَهْلِ طاعَتِكَ أَجْمَعِينَ ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

اللهمَّ أَيْد الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِين وانصُرْ عَسَاكِرَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ

وَالْمُسْلِمَاتِ ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مجيب الدعو

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنا صَلَائنا وصيامنا وجميع عباداتنا ، بِرَحْمَتِكَ يا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

اللَّهُمَّ إِنَّا تَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إلَيْهَا مِنْ قَوْلِ أَوْ عَمَلٍ ، اللَّهُمَّ إِنَّا نعوذ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْل أَوْ عَمل

اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِهِ عاجله وآجله ، مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لمْ نعْلَمَ ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الشر كله عاجله وآجله ، مَا عَلِمْنَا مِنْهُ ومَا لَمْ نعْلَمُ

اللَّهُمَّ إِنَّا نسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ ونَعُوذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ رَبُّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا ، وَإِنْ لَمْ تغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنكُونَنَّ مِنْ الخاسرين

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إماما

ربَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ والسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وبركاته

 

Suara Muhammadiyah • 05 / 111 • 1-15 Maret 2026 hal. 33

Disalin sesuai aslinya oleh Iqbal Al Basith_ Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Planjan Kesugihan Cilacap

23/06/21

RINDANG YANG TELAH LAMA MENGHILANG


Majalah Rindang majalah yang beredar di lingkungan Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah diterbitkan oleh Yayasan Kesejahteraan Karyawan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah. Dahulu kala majalah ini datang setiap bulan dengan beragam isi tema dan tulisan. Keluarga besar Kementerian Agama selalu mewarnai halaman demi halaman menorehkan karya dan menyatakan ide serta gagasannya. Penyuluh, Guru, Penghulu, Pengawas sampai Kepala Kantor Kementerian Agama berfastabiqul khairat menghiasi isi majalah Rindang.

Sebagai bagian dari keluarga besar Kementerian Agama, saya pernah mencoba peruntungan memasuki halaman dalam Majalah Rindang tersebut. Seingat saya ada dua buku, satu modul pendidikan serta sebuah makalah hasil seminar yang kujadikan rujukan dalam menyusun tulisan ini. Tulisan yang berjudul Guru Sebagai Pembimbing, Pengajar dan Pelatih ini sedianya kukirim ke redaksi Majalah Rindang dengan harapan dapat dimuat pada rubrik Pendapat Anda ( agak lupa juga sih, nama pasti rubriknya). Biasanya naskah yang dimuat dalam rubrik tersebut sudah melalui edit dan rangkum dari redaksi sehingga hanya muncul sepertiga atau setengah dari naskah aslinya. Dalam satu halaman yang disediakan itu rata-rata terpampang 3 atau 4 penulis. Dalam ruang yang sempit seperti itu maka satu penulis mendapat jatah sekitar 4 atau 5 paragraf saja.

September 1995 saya diberitahu saudaraku bahwa tulisanku muncul di Majalah Rindang.  Sebelum membuka majalah tersebut, terbayang dalam benak ini tulisan sudah diolah sedemikian rupa sehingga menjadi hanya dua atau tiga paragraf saja. Kubuka pada halaman kedua dimana terdapat rubrik tersebut. Namun tak kujumpai namaku tertera di sana. Kulanjutkan berpindah halaman mencari keberadaan tulisanku. Agak terkejut juga setelah kudapati tulisanku menjadi makalah utama dan terpampang di rubrik Pendidikan. Dimuat utuh tanpa ada edit dan tak ada pengurangan satu katapun. Persis sama seperti ketika dahulu saya mengetikkannya (tahun 1995 belum ada komputer, masih menggunakan mesin ketik berpita) pada beberapa lembar kertas itu. 

Masih teringat covernya. Bergambar sulak, kelud pembersih debu, Rindang No.2 Tahun XXI September 1995, edisi majalah yang memuat tulisanku. Telah lama hilang entah terselip di mana. Kebetulan saat itu sempat memiliki copian yang masih tersimpan pada sebendel berkas persyaratan sertifikasi guru. 


Sedihnya juga, Majalah Rindang itupun kini sudah lama berhenti terbit.

Iqbal Al Basith | Planjan, 24 Juni 2021



                            Copian artikel Iqbal Al Basith

Sampel cover Majalah Rindang dalam kenangan




 

 

12/05/21

Belajar dari Ramadhan


 

Belajar dari Ramadhan

Oleh : Iqbal Al Basith bin Marfu’i bin Abdullah Chizam bin Abdul Mu’thi*)

 

إن الحمد لله نحمده و نستعينه و نستغفره و نتوب اليه و نعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهد الله فلا مضل له و من يضلل فلا هادي له و أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمدا عبده ورسوله

يٰأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُونَ

يٰأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِى خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يٰأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمٰلَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أما بعد فإن أصدق الحديث كتاب الله و خير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم و شرو العمور مهدثاتها و كل مهدثة بدعة و كل بدعة ضلاله و كل ضلالة في النار.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

أَيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

قال الله تعالى في القرآن الكريم : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Jamaah Ied yang semoga senantiasa dirahmati Allah swt.

Khatib mewasiatkan agar senantiasa selalu bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena hanya orang-orang yang bertakwa yang mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يٰأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمٰلَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. “ (Al Ahzab : 70-71)

Ramadhan memberikan pelajaran/hikmah kepada kita agar umat Islam dapat menggapai derajat taqwa yang mulia. Ketika melaksanakan ibadah puasa, berarti umat Islam telah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Hal ini adalah pengertian taqwa. Bentuk taqwa dalam ibadah puasa dapat dilihat dari hal-hal berikut;

·         Orang yang melaksanakan ibadah puasa akan meninggalkan setiap larangan seperti makan, minum, perkataan sia-sia, perbuatan sia-sia, perkataan keji/kotor, perbuatan dusta.

Berpuasa di bulan suci ramadhan berarti mengontrol hawa nafsunya, sesuai dengan perintah Allah SWT. Hal ini dilakukan demi mendekatkan diri pada Allah SWT dan mendapatkan pahala dari-Nya.

  • Orang yang melaksanakan ibadah puasa sebenarnya mampu untuk melakukan segala kesenangan duniawi yang dilarang selama sedang puasa. Namun, karena menyadari bahwa Allah Maha Mengetahui, maka ia menekan segala keinginan itu secara sadar dan ikhlas.
  • Orang yang melaksanakan ibadah puasa juga akan merasa senang melakukan berbagai amalan yang menunjukkan ketaatan. Dan ketaatan adalah jalan menggapai taqwa.

Ramadhan melatih kita beribadah dengan ikhlas. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى

“Setiap amalan anak Adam (shalat, baca Qur’an, sedekah, haji, umrah, bakti orang tua) pahalanya diketahui, yaitu 1 amal kebaikan dilipatkan menjadi 10 sehingga mendapatkan 10 hasanah, kemudian dilipatkan lagi menjadi 700. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Kecuali puasa, puasa itu milikKu, dan Aku yang akan mengganjarnya. Ia (orang yang berpuasa) telah meninggalkan syahwat dan makannya karena-Ku. '” (HR. Bukhari)

Imam Ahmad Rahimahullahu Ta’ala pernah berkata الصيام لا يدخله الرياء “Puasa, tidak dimasuki oleh riya’.” Ibnul Jauzy Rahimahullahu Ta’ala, ulama Islam abad ke-6 Hijriyah, beliau mengatakan:

جميع العبادات تظهر بفعلها وقلّ أن يسلم ما يظهر من شوبٍ ( يعني قد يخالطه شيء من الرياء ) بخلاف الصوم

“Seluruh ibadah terlihat saat kita melakukannya dan sedikit yang selamat yang terlihat dari duri (yaitu terkadang dicampuri oleh sesuatu dari riya’) berbeda dengan puasa.”

Orang tidak bisa riya’ dengan puasanya, puasa tidak bisa dimasuki riya’. Karena tidak ada yang tahu puasa dan tidaknya sesorang kecuali  kecuali Allah.

Maka puasa memberikan pelajaran kepada kita hendaknya seseorang ketika beramal, dirinya ikhlas. Konsep ikhlas adalah semakin tersembunyi semakin ikhlas. Maka usahakan Anda memiliki amal yang tidak pernah diketahui kecuali oleh Allah, bahkan istri dan anak Anda tidak mengetahuinya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ خَبِئٌ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ

“Siapa di antara kalian yang sanggup untuk mempunyai amalan shalih yang tersembunyi, maka lakukanlah.” (Al-Hadits, as-shahihah no 2313).

Ramadhan membimbing manusia mengembangkan dan meningkatkan rasa syukur kita. Bersyukur atas ni’mat yang telah Allah anugerahkan  dengan ringan berderma menyisihkan hartanya untuk mereka yang berhak seperti dicontohkan Rasulullah. Karena Rasulullah shalallahu alaihi wa salam adalah orang yang paling dermawan dikala Ramadhan, bahkan kedermawanannya melebihi angin yang berhembus.

Ramadhan mendidik kita bersabar. Sabar saat mengerjakan ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar menghadapi takdir yang buruk saat mendapatkan musibah yang kurang nyaman, yang buruk menurut kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya Allah hanya memberikan pahala tanpa batas kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Az-Zumar[39]: 10)

Ramadhan mendidik kita menuju husnul khatimah. Lailatul Qadar bukan di awal bulan Ramadhan, tapi Lailatul Qadar adalah di akhirnya. Ibadah kita selama Ramadhan semestinya lebih tekun lebih bersemangat lebih meningkat menjelang akhir Ramadhan. Maka ini pelajaran bagi kita bahwasanya yang menjadi ukuran nilai kualitas hidup kita adalah bagaimana keadaan kita diakhir kehidupannya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيْمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَيَعْمَلُ فِيْمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَإِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِخَوَاتِيْمِهَا.

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang beramal dengan amalan ahli surga menurut apa yang tampak di hadapan manusia, (namun) sebenarnya dia adalah penghuni Neraka. Ada seorang hamba beramal dengan amalan ahli neraka menurut apa yang tampak di hadapan manusia, (namun) sebenarnya dia adalah penghuni Surga. Sesungguhnya amal-amal itu tergantung daripada akhirnya.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad)

Janganlah Al Quran yang kita miliki hanya kita baca di bulan Ramadhan saja. Biasakan dan rutinkan terus membacanya di bulan-bulan berikutnya. Al-Qur’an bukan hanya memberikan efek kepada kita manusia sebagai makhluk hidup. Tapi Al Quran juga memberikan efek kepada rumah kita yang merupakan benda mati. Ini yang kadang-kadang sering dilupakan.

Dalam sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Imam Ad-Darimi, dan atsar ini dinilai shahih oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Rahimahullah, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata:

إِنَّ الْبَيْتَ لَيَتَّسِعُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَحْضُرُهُ الْمَلَائِكَةُ وَتَهْجُرُهُ الشَّيَاطِينُ وَيَكْثُرُ خَيْرُهُ أَنْ يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ

“Rumah yang dibacakan Al-Qur’an, (1) akan terasa luas bagi penghuninya, (2) dan akan dihadiri/dipenuhi oleh para malaikat, (3) setan akan pergi meninggalkan rumah tersebut, (4) dan akan banyak kebaikan dalam rumah tersebut.”

Sebaliknya:

وَإِنَّ الْبَيْتَ لَيَضِيقُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَهْجُرُهُ الْمَلَائِكَةُ وَتَحْضُرُهُ الشَّيَاطِينُ وَيَقِلُّ خَيْرُهُ أَنْ لَا يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ

“Rumah yang tidak dibacakan Al-Qur’an, (1) akan terasa sempit bagi penghuninya, (2) akan ditinggalkan oleh malaikat, (3) akan dihadiri oleh setan, (4) akan sedikit kebaikannya.”

Kepada para muslimah, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika khutbah Ied, beliau selalu mengingatkan kepada para muslimah, sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari, beliau mengatakan:

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ ، فَإِنِّى رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ

“Wahai muslimah, bersedekahlah. Sesungguhnya aku melihat kalian penghuni neraka yang paling banyak.”

Apa sebabnya?

تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ

“Sering melaknat pemberian suami dan sering tidak berterima kasih dengan pemberian suami.”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الِاسْتِغْفَارَ

“Wahai para perempuan, bersedekahah dan perbanyaklah istighfar.” (HR. Muslim)

أقول ما تسمعون وأستغفر الله لي ولكم من كل ذنب، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ

ربنا اغفر لنا ولوالدينا وارحمهم كما ربونا صغار

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللهم وفق ولي أمرنا لما تحب وترضى ومن العمل بكتابك واتباع سنتك

اللهم ولي علينا خيارنا ولا تولي علينا شرارنا

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ، والجُنُونِ، والجُذَامِ، وَسَيِّئِ الأسْقَامِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

والله يعلم ما تصنعون

 

 

 



*) Disampaikan pada khutbah Idul Fitri 1442 H di komplek Masjid At Taqwa Planjan Kesugihan Cilacap, Kamis 13 Mei 2021